Jika ada pertanyaan

Baca newsletter terbaru

Dibawah ini adalah contoh tanya-jawab di opini-kedua.com dimana pengguna mengkonsultasikan ibunya yang mengalami kompresi fraktur di tulang belakang. Dari contoh tanya-jawab ini, anda bisa melihat bagaimana dokter membantu memberikan pendapatnya secara ringkas dan jelas sehingga kebingungan pengguna bisa terjawab.  

Tips supaya anda bisa mendapatkan jawaban yang tepat dan memuaskan:

  • Jelaskan kondisi dan riwayat penyakit pasien dengan lengkap

  • Jelaskan hasil diagnosa dan pengobatan yang telah diberikan dokter pegangan anda

  • Berikan hasil-hasil pemeriksaan yang telah dilakukan (check darah, check kencing, USG, CT/MRI/X-Ray)

  • Tuliskan pertanyaan anda dengan jelas dan mudah dimengerti

Contoh Konsultasi
Kompresi Fraktur

Sekitar sebulan yang lalu, ibu saya (umur 80 tahun) terpeleset jatuh ketika menyirami tanaman di depan rumahnya. Ibu jatuh ke belakang terduduk dengan keras dan merasakan sakit di pinggangnya. Lengan kirinya juga sakit karena waktu terjatuh tangannya ikut berusaha menyangga badannya. Saya bawa ibu saya ke unit gawat darurat dan disana diambil foto rontgen dan MRI. Dokter mengatakan tidak perlu terburu-buru, dan hanya memberikan obat penahan sakit.

Hari berikutnya saya bawa ibu ke dokter orthopedi. Disana dokter mendiagnosa terjadi kompresi fraktur di tulang belakang ibu. Tidak ada masalah di bagian syaraf. Tetapi dokter juga ragu-ragu apakah sebaiknya dioperasi atau tidak. Di Surabaya, ada beberapa dokter yang melakukan operasi Vertebroplasty. Tapi saya dengar di Jakarta ada dokter yang melakukan operasi Kyphoplasty yang lebih baru dan aman. 


Saya ingin bertanya, apakah kasus ibu saya ini sebaiknya di operasi. Dan teknik operasi mana yang sebaiknya saya ambil jika ibu harus menjalani operasi. Ibu sendiri bilang sebenarnya tidak terlalu ada rasa sakit (hanya jika bergerak mendadak). Tapi saya khawatir karena di foto MRI, ada ruas tulang belakang ibu yang kelihatan seperti remuk.

Setelah memeriksa foto MRI, memang benar terjadi fraktur kompresi di tulang L1. 

Sebagai perawatan konservatif untuk tulang L1, saya manganjurkan untuk korset dari panggul ke bawah dada. Jika masih kurang dari sebulan dari cedera, korset yang keras lebih baik. Tapi karena sudah lebih dari sebulan, tampaknya mengenakan korset damen lembut tidak apa-apa. Masa pemakaian adalah sekitar 2-3 bulan.

Mengenai operasi, memang ada teknik Vertebroplasty dan Kyphoplasty. Dua-duanya dilakukan dengan memasukkan jarum lewat punggung belakang untuk menyuntikkan zat sejenis semen pengeras, untuk memperkuat tulang yang mengalami fraktur. Vertebroplasty langsung menyuntikkan semen ke dalam tulang, sedangkan Kypholasty adalah teknik yang lebih baru dimana tulang dimasukkan balon dulu (untuk membuka ruang) sebelum disuntikkan semen. Efek samping dari kedua operasi ini adalah jika semen yang disuntikkan merembet keluar dan mengganggu syaraf dan berakibat kaki tidak bergerak, hilang perasaan, atau nyeri. Walaupun demikian, dengan kemajuan teknik operasi, risiko ini cenderung kecil dan jarang terjadi.

Operasi sebaiknya dilakukan jika rasa sakit dan nyeri tidak bisa hilang dengan perawatan konservatif. Juga perlu di check dengan MRI/CT/Rontgen, apakah masih ada ruang didalam tulang untuk disuntikkan semen. Jika ingin melakukan operasi saya menganjurkan teknik Kyphoplasty, karena teknik ini membantu memperbaiki kondisi tulang ke kondisi awalnya (sebelum fraktur kompresi). Selain itu, karena Kypholasty menyuntikkan semen ke dalam balonnya, kemungkin semennya merembes keluar tulang lebih kecil.

Karena ibu sudah lebih dari 1 bulan sejak jatuh, dan dari keluhannya tidak terlalu ada rasa sakit kecuali jika bergerak mendadak, saya menganjurkan untuk menggunakan korset damen dan banyak beristirahat. Setelah itu dilihat perkembangannya dalam sebulan (ambil foto roentgen 1 minggu sekali).

Terima kasih atas penjelasannya yang lengkap dan jelas. Saya ingin bertanya lebih lanjut. Walaupun ibu saya tidak banyak mengeluhkan rasa sakit, apakah tetap sebaiknya dioperasi sebagai tindakan pencegahan ? Maksud saya, jika sampai ibu jatuh lagi dengan posisi yang sama, bisa berakibat tulang sekarang yang fraktur tambah remuk dan bisa merusak syaraf. Apakah operasi berguna sebagai tindakan pencegahannya ?

Kalau umpamanya ibu anda sekali lagi jatuh terduduk, kecil kemungkinan tulang yang sama mengalami fraktur lagi. Biasanya kompresi fraktur terjadi karena pengeroposan tulang. Tetapi tulang yang mengalami fraktur justru menjadi lebih padat dan kuat daripada tulang yang lain. Jadi lebih besar kemungkinan tulang yang lain yang akan mengalami kompresi fraktur. Selain itu, kompresi fraktur yang disebabkan tulang kropos biasanya terjadi dibagian anterior/depan yang lebih sedikit syarafnya (seperti kasus ibu anda). Karena alasan itu, dan juga karena operasi mempunyai resiko anaesthesia dan lainnya, saya tidak terlalu menganjurkan mengambil operasi sebagai tindakan pencegahan.

Saya sekarang mengerti alasan kenapa tidak perlu operasi sebagai tindakan pencegahan. Terima kasih dokter !